File Not Found
UREPORT

Tari Perut dari Korea hingga Bali

Sehari-hari, Angela adalah artis teater dan sudah menguasai berbagai jenis tari.

Rabu, 28 April 2010, 11:22 Supardi Asmorobangun
Tari Pendet, Bali
Tari Pendet, Bali (balipuspa.de)

VIVAnews - Wakil korea dalam Festival Tari Perut Asia, Angela Kim, menjuarai kompetisi tari perut yang digelar Jumat malam lalu di Amphiteater, Ayodya Resort, Nusa Dua.

Angela yang tampil dalam kemasan khas ketimuran memukau juri dengan gerakan tegas tapi aduahai. Gadis belia ini menyingkirkan wakil dari Parancis, Yamina Soreya dan wakil Australia, Michele Ridsdale, yang keduanya merebut tempat kedua dan ketiga. Uniknya, Angela mendapat undian maju ke pentas urutan pertama.

Kompetisi ini diikuti oleh 18 peserta dari 10 negara dan merupakan salah satu acara penting dalam festival tahunan tari perut tingkat Asia. Angella adalah seorang instruktur tari perut kelahiran Seoul dan sekarang melatih sanggar-sanggar tari perut yang mulai menjamur di Beijing dan beberapa kota besar di Cina.

Gadis cantik kelahiran tahun 1980 ini mengaku sehari-hari ia berlatih tari perut tiga hingga empat jam. “Itu belum termasuk waktu melatih di sanggar loh. Kalau digabung ya bisa 5 hingga 8 jam per hari,” katanya.

Sehari-hari, Angela adalah artis teater dan sudah menguasai berbagai jenis tari. “Lima tahun lalu saya tertarik tari perut dan semenjak itu saya serius di bidang ini, dan praktis meninggalkan dunia artis yang sebenarnya cukup membawa berkah,” ujarnya.

Menurut Angela, kalau bermain teater dia harus bekerja dengan banyak orang kalau mau tampil. “Tari perut membuat anda lebih mandiri, bisa tampil sendiri di mana aja,” kata Angella.

Di luar kesibukannya menari, Angela sangat hobi menjahit dan songket. “Baju tari saya ketika pertama kali mengikuti sebuah lomba kejuaraan adalah hasil karya saya sendiri,” kata runner-up festival Tari Perut I Seoul yang I gelar persis seminggu sebelum acara di Bali. Jadi, dalam satu minggu dia memenangkan dua lomba di dua tempat berbeda, Seoul dan Bali.

Belly Dance Festival sendiri diikuti ratusan peserta. Memasuki hari kedua festival tari perut tingkat Asia ini, jumlah peserta makin meningkat. Sampai Sabtu kemarin  230 penari perut dari berbagai belahan dunia ambil bagian pada Festival Tari Perut Asia yang digelar di Ayodya Resort, Nusa Dua, hingga 28 Feb 2010 ini.

Mereka datang untuk mengikuti berbagai workshop, pelatihan tari, talkshow, lomba tari tingkat Asia, pameran dagang dan malam pertunjukan spektakuler yang berteme mythos Yunani. Salah satu mahaguru yang yang menjadi daya tarik peserta datang jauh-jauh ke Bali adalah maestro tari perut kelas dunia dari Amerika Serikat, Jillina. Jillina & Belly Dance Evolution adalah nama besar yang melambungkan tarian rakyat Timur Tengah yang pada awalnya hanya konsumsi masyarakat biasa menjadi ikon dunia selebriti tingkat atas, terkenal dari Tokyo, Lons Angeles hingga Buenos Aires.

“Jillina berhasil mengadopsi tari rakyat ini menjadi industry yang bernilai jutaan rupiah dan merevolusikannya menjadi trend dunia. Saat ini Jillina terbang dari satu Negara ke Negara lain untuk mempromosikan tarian ini,” kata direktur Festival, Felix Rusli.

“Beliau baru datang dari Korea dan selesai dari festival di Bali akan langsung menuju Jerman dan beberapa Negara Eropa untuk tujuan yang sama,” tambah Rusli.

Salah satu faktor yang menjadi pemicu keberhasilan tari perut beranjak dari tarian rakyat menjadi konsumsi selebritis, menurut Felix, adalah manfaat besar yang diperoleh dari para praktisi dalam membentuk tubuh mereka.

Menurut Felix, orang Amerika dan Eropa sangat terobsesi dengan perut rata dan kencang. Dan ketika mereka memahami bahwa tari perut bisa membuat mereka langsing, segera saja tarian ini menjadi trend dunia barat.

“Jillina yang berhasil membawa revolusi ini ke seluruh dunia dan kita sangat beruntung bisa mengajak beliau ke Indonesia mengingat jadwal beliau yang sangat padat,” kata Felix.

“Berita bagusnya, festival tingkat Asia ini akan kembali digelar di Bali tahun depan, karena sambutan yang hangat dari komunitas belly dancer, bukan hanya dari Asia, tapi juga benua Amerika, Afrika dan Eropa.

Sementara itu, menurut ketua panitia, maestro tari perut Indonesia, Suzanna Tibble, even ini merupakan tonggak keberhasilan Indonesia menjadikan event tari perut sebagai magnet untuk menarik lebih banyak wisatawan ke dalam negeri.

“Di Jakarta jumlah peminat tari perut terus meningkat dan sanggar-sanggar tari baru terus bermunculan. Kebanyakan dari para murid sanggar adalah mereka yang sudah biasa dengan tari salsa atau tango. Mereka menyadari tari perut sebagai jelmaan baru sebuah seni yang sangat pas dengan wanita segala usia,” ujar Suzanna.

“Tak jarang murid-murid kami adala mereka yang “pindah agama” dari tarian-tarian modern yang lain. Ini menunjukkan betapa tari perut telah menjadi ikon masyarakat kelas menengah atas, mengingat peminatnya telah merambah ke kalangan selebritis,” demikian ungkap Susanna, yang telah berkeliling dunia karena keahliannya dalam tari khas Timur Tengah ini.

Festival ini sendiri tak melulu perlombaan. Para peserta juga mengikuti latihan tari Oleg Tamulilingan dalam satu workshop Sabtu kemarin di bawah bimbingan salah satu penari Bali terbaik asal Ubud, Anak Agung Istri Wirati.

Menurut Felix Rusli banyak tari Bali yang memiliki kemiripan dengan tari perut. “Tetapi, tari Oleg Tamulilingan merupakan yang paling mendekati sempurna kalau disejajarkan dengan tari perut,” ujar Felix.

Menurut Felix ada nuansa sensualitas dan seni karya tinggi dalam tari Oleg. Karena ini menggambarkan tarian percintaan antara dua kumbang yang tengah kasmaran. Nuansa yang sama ada di tari perut.

“Tadi pagi kami mengundang instruktur tari Bali untuk melatih satu atau dua peserta. Ternyata minat para penari untuk belajar tari Oleg sangat tinggi dan besuk kita akan menyaksikan puluhan penari perut kelas dunia mempelajari tari Oleg,” kata Felix.

Anak Agung Istri Wirati, biasa dipanggil Gung Ti dikalangan para penari, mengatakan dia bangga akan menjadi pengajar para maestro tari dunia salah satu kekayaan budaya Bali. “Saya tak sabar menunggu menularkan ilmu tari yang kepada mereka.

Pasti mereka antusias dengan gerakan tari Bali yang tidak kalah unik. Tadi pagi saya mengajar salah seorang tamu Jepang dan dia sangat antusias menirukan semua gerakan.

Menurut GungTi, sebenarnya ada beberapa tari Bali yang mirip dengan tari perut. “Sebut saja Oleg, Joged Bumbung, Pendet maupun Legong Kraton. Tapi gerakan yang paling mendekati ya Oleg Tamulilingan.” Gung Ti merupakan maestro tari putrid penari kenamaan dari Puri Peliatan Ubud, Raka Rasmi.

“Kebetulan saya belajar tari Oleg langsung dari ibu. Ibu saya yang pertama kali membawakan tari Oleg dan langsung dibimbing oleh sang pencipta tari, Bpk Ketut Mario,”  kata Gung Ti. Gung Ti merupakan generasi kedua sanggar tari Raka Rasmi Puri Peliatan Ubud.

• VIVAnews

© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
TENTANG U-REPORT
Semua isi materi baik berupa teks, foto dan video yang dimuat oleh U Report adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. Redaksi berhak mengedit materi sepanjang tidak mengubah isi dan substansi.

Kami adalah portal berita, dan melalui kanal ini, ingin mengajak anda terlibat dalam proses penciptaan berita. Peristiwa terjadi setiap saat, dan karena itu pasti lebih banyak berita di sekitar kita dari apa yang terlihat di media, baik cetak maupun elektronik.

Anda boleh berbagi cerita yang tak biasanya kita baca atau tonton. Cerita yang kuat, menarik, penting, dan bersifat mendesak dari anda, sangat mungkin menjadi salah satu headline di VIVAnews.

Selamat berbagi cerita.